QS. AL-MA'IDAH · 27–32

Kisah Habil dan Qabil

6 ayat · 1 hadits · ± 2 menit baca

Babak 1 · QS. 5: 27

Dua kurban

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ membacakan kisah dua putra Adam dengan sebenar-benarnya. Keduanya mempersembahkan kurban kepada Allah. Kurban salah seorang dari mereka, Habil, diterima, sedangkan kurban yang lain, Qabil, tidak diterima.

Qabil dikuasai rasa dengki dan mengancam, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Habil menjawab dengan tenang bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa. Seakan ia mengingatkan, yang perlu diperbaiki adalah ketakwaan, bukan dengan menyingkirkan saudara.

Babak 2 · QS. 5: 28–29

Tangan yang tidak diangkat

Habil menegaskan bahwa sekalipun Qabil mengangkat tangan untuk membunuhnya, ia tidak akan membalas dengan mengangkat tangannya untuk membunuh. Alasannya, ia takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Habil juga memperingatkan bahwa jika pembunuhan itu terjadi, Qabil akan kembali kepada Allah dengan memikul dosa membunuh saudaranya ditambah dosanya sendiri, sehingga ia menjadi penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.

Babak 3 · QS. 5: 30–31

Pembunuhan pertama

Namun hawa nafsu Qabil terus mendorongnya, hingga ia benar-benar membunuh saudaranya. Dengan perbuatan itu ia termasuk orang-orang yang merugi.

Qabil kebingungan dengan jasad saudaranya. Allah lalu mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah, untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana mengubur mayat.

Melihat itu Qabil berseru, “Celakalah aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku?” Ia pun termasuk orang-orang yang menyesal.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh secara zalim melainkan anak Adam yang pertama ikut menanggung bagian dari dosanya, karena dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan. HR. al-Bukhari 3335

Babak 4 · QS. 5: 32

Nilai satu nyawa

Karena peristiwa itu, Allah menetapkan bagi Bani Israil sebuah hukum: siapa yang membunuh satu jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia. Siapa yang memelihara kehidupan satu jiwa, seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.

Para rasul telah datang kepada mereka membawa keterangan yang jelas. Namun setelah itu, banyak di antara mereka tetap melampaui batas di muka bumi.

Hadits terkait

Kisah berikutnya Kisah Nabi Nuh dan Banjir Besar QS. Hud · 25–49

Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.