QS. AL-BAQARAH · 30–39

Kisah Nabi Adam dan Iblis

10 ayat · 2 hadits · ± 3 menit baca

Babak 1 · QS. 2: 30

Khalifah di muka bumi

Sebelum manusia pertama diciptakan, Allah memberitahukan rencana-Nya kepada para malaikat: Dia akan menjadikan seorang khalifah di bumi, makhluk yang akan menghuni dan mengelolanya dari generasi ke generasi.

Para malaikat bertanya, bukan karena membantah, melainkan ingin memahami: apakah Allah akan menjadikan di sana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sementara mereka senantiasa bertasbih dan menyucikan-Nya? Allah menjawab dengan singkat, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Babak 2 · QS. 2: 31–33

Ilmu yang dimuliakan

Allah lalu menciptakan Adam dan mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu. Kemudian benda-benda itu diperlihatkan kepada para malaikat, dan mereka diminta menyebutkan namanya jika anggapan mereka benar.

Para malaikat mengakui keterbatasan mereka dengan rendah hati: “Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain yang Engkau ajarkan. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Adam pun diminta menyebutkannya, dan ia menyebutkan semuanya. Saat itu Allah mengingatkan para malaikat bahwa Dia mengetahui rahasia langit dan bumi, serta apa yang mereka tampakkan dan apa yang mereka sembunyikan. Keutamaan Adam tampak jelas: ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya.

Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa ketika Allah menciptakan Adam, tingginya enam puluh hasta. Allah menyuruhnya memberi salam kepada sekelompok malaikat dan mendengarkan jawaban mereka, karena itulah salam bagi dirinya dan keturunannya. Adam berkata, “Assalamu’alaikum,” dan mereka menjawab, “Assalamu’alaika wa rahmatullah.” HR. al-Bukhari 3326

Babak 3 · QS. 2: 34

Sujud yang ditolak

Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam sebagai penghormatan. Semuanya sujud, kecuali Iblis.

Iblis menolak dan menyombongkan diri. Kesombongan itulah yang menjerumuskannya ke dalam golongan orang-orang kafir, dan sejak itu ia menjadi musuh yang nyata bagi Adam dan anak cucunya.

Babak 4 · QS. 2: 35–36

Di dalam surga

Adam dan istrinya ditempatkan di surga. Mereka boleh menikmati apa saja yang ada di sana dengan leluasa, hanya satu larangan: jangan mendekati sebuah pohon, agar tidak termasuk orang-orang yang zalim.

Namun setan terus menggoda hingga keduanya tergelincir dan melanggar larangan itu. Akibatnya mereka dikeluarkan dari kenikmatan yang selama ini mereka rasakan.

Allah memerintahkan mereka turun ke bumi. Di sana mereka dan keturunannya akan hidup, sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dengan tempat tinggal dan kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan.

Babak 5 · QS. 2: 37–39

Pintu tobat

Adam tidak berputus asa. Allah mengilhamkan kepadanya beberapa kalimat untuk memohon ampun, dan Allah menerima tobatnya. Banyak ahli tafsir menjelaskan bahwa kalimat itu adalah doa yang disebut dalam Surah Al-A’raf ayat 23: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Rasulullah ﷺ menceritakan bahwa kelak Adam dan Musa berdebat. Musa berkata, “Engkaulah Adam yang kesalahannya membuatmu keluar dari surga.” Adam menjawab, “Engkaulah Musa yang Allah pilih dengan risalah dan kalam-Nya, lalu engkau mencelaku atas perkara yang telah ditetapkan atasku sebelum aku diciptakan?” Rasulullah ﷺ bersabda dua kali bahwa Adam memenangkan perdebatan itu. HR. al-Bukhari 3409

Bersama turunnya Adam ke bumi, Allah menetapkan janji bagi seluruh keturunannya: siapa pun yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan merasa takut dan tidak akan bersedih hati.

Adapun orang-orang yang mengingkari dan mendustakan ayat-ayat-Nya, mereka adalah penghuni neraka dan kekal di dalamnya. Sejak awal sejarah manusia, jalannya hanya dua: mengikuti petunjuk Allah atau mengikuti bisikan musuh yang telah menggelincirkan bapak mereka.

Hadits terkait

Kisah berikutnya Kisah Habil dan Qabil QS. Al-Ma'idah · 27–32

Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.