QS. AL-ANBYA · 51–73
Kisah Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala
23 ayat · 3 hadits · ± 3 menit baca
Pertanyaan seorang pemuda
Sejak muda Ibrahim telah dianugerahi petunjuk oleh Allah, dan Allah mengetahui keadaan dirinya.
Ia bertanya kepada ayah dan kaumnya, “Patung-patung apa ini yang kalian tekun menyembahnya?” Jawaban mereka hanya satu: mereka mendapati nenek moyang mereka menyembahnya.
Ibrahim menegaskan bahwa mereka dan nenek moyang mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka bertanya apakah ia bersungguh-sungguh atau hanya bermain-main. Ibrahim menjawab, Tuhan mereka adalah Tuhan langit dan bumi yang menciptakan keduanya, dan ia termasuk orang yang menyaksikan kebenaran itu.
Berhala yang dihancurkan
Ibrahim bersumpah dalam hatinya akan membuat siasat terhadap berhala-berhala itu setelah kaumnya pergi.
Ketika mereka meninggalkan tempat itu, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala sampai berkeping-keping, kecuali satu yang paling besar, agar kaumnya kembali dan bertanya kepadanya.
Diadili di hadapan orang banyak
Kaumnya terkejut. “Siapa yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Ia pasti termasuk orang yang zalim.” Sebagian dari mereka teringat pernah mendengar seorang pemuda bernama Ibrahim mencela berhala-berhala itu.
Mereka memutuskan menghadirkan Ibrahim di depan orang banyak agar semua menyaksikan. “Apakah engkau yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”
Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar inilah yang melakukannya. Tanyakan saja kepada mereka, jika mereka bisa berbicara.”
Abu Hurairah menyebutkan bahwa ucapan Ibrahim, “Sebenarnya yang besar inilah yang melakukannya,” termasuk dua ucapan yang ia katakan demi membela agama Allah. Itu adalah ucapan bersayap untuk menyadarkan kaumnya, bukan untuk menipu demi kepentingan diri. HR. al-Bukhari 3358
Kaumnya tersentak dan mulai sadar. Mereka berkata kepada sesamanya, “Sesungguhnya kalianlah yang zalim.” Namun kemudian mereka menundukkan kepala dan berkata, “Engkau tahu sendiri bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.”
Di situlah Ibrahim menyampaikan hujahnya: mengapa mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat sedikit pun? “Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Tidakkah kalian berpikir?”
Api yang menjadi dingin
Kalah berhujah, mereka memilih kekerasan. “Bakarlah dia dan belalah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.”
Ibnu Abbas berkata bahwa kalimat “Hasbunallah wa ni’mal wakil” (cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung) diucapkan oleh Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam api. HR. al-Bukhari 4605
Allah berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” Api itu tidak membakarnya.
Rasulullah ﷺ memerintahkan membunuh cicak dan bersabda bahwa hewan itu dahulu meniup-niup api yang membakar Ibrahim. HR. al-Bukhari 3359
Mereka hendak mencelakai Ibrahim, tetapi justru merekalah yang Allah jadikan orang-orang yang paling merugi.
Hijrah dan karunia
Allah menyelamatkan Ibrahim dan Luth, lalu membawa mereka ke negeri yang Dia berkahi untuk seluruh alam.
Allah juga menganugerahkan kepada Ibrahim seorang anak, Ishaq, dan sebagai tambahan seorang cucu, Ya’qub. Semuanya Allah jadikan orang-orang saleh.
Mereka dijadikan pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah. Allah mewahyukan kepada mereka untuk berbuat kebaikan, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Allah mereka beribadah.
Hadits terkait
Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.