QS. AL-KAHF · 60–82
Kisah Nabi Musa dan Khidir
23 ayat · 2 hadits · 10 pelajaran · ± 4 menit baca
Mencari pertemuan dua laut
Suatu hari Nabi Musa berkhutbah di hadapan Bani Israil. Seseorang bertanya siapakah manusia yang paling berilmu, dan Musa menjawab, “Aku.” Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu itu kepada-Nya, lalu mewahyukan bahwa ada seorang hamba-Nya di pertemuan dua laut yang lebih berilmu darinya. Ketika Musa bertanya bagaimana menemuinya, ia diperintahkan membawa seekor ikan di dalam keranjang: di tempat ikan itu hilang, di situlah hamba tersebut berada. HR. al-Bukhari 122
Musa pun berangkat bersama pembantunya, Yusya’ bin Nun. Tekadnya bulat: ia tidak akan berhenti berjalan sampai tiba di pertemuan dua laut, sekalipun harus berjalan bertahun-tahun. HR. al-Bukhari 122
Setibanya di sebuah batu besar, keduanya beristirahat lalu tertidur. Ikan itu keluar dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dengan cara yang menakjubkan, tanpa mereka sadari. HR. al-Bukhari 122
Mereka berjalan lagi sepanjang sisa malam dan hari itu. Musa baru merasa letih setelah melewati tempat yang dituju, lalu meminta bekal makanan. Saat itulah pembantunya teringat: ikan itu telah melompat ke laut ketika mereka berteduh di batu tadi, dan ia lupa menceritakannya. HR. al-Bukhari 122
“Itulah tempat yang kita cari,” kata Musa. Keduanya pun kembali, menyusuri jejak langkah mereka menuju batu itu.
Bertemu hamba yang berilmu
Di dekat batu itu mereka mendapati seorang laki-laki yang berselimut kain. Musa memberi salam, dan laki-laki itu heran, “Bagaimana ada salam di negerimu?” Musa memperkenalkan diri. Dialah Khidir, hamba Allah yang dianugerahi rahmat dan diajari ilmu langsung dari sisi-Nya. HR. al-Bukhari 122
Dengan rendah hati Musa meminta izin untuk mengikutinya, agar diajari sebagian ilmu yang menjadi petunjuk baginya.
Khidir menjawab bahwa Musa tidak akan sanggup bersabar bersamanya, sebab ia akan melihat hal-hal yang belum ia ketahui hakikatnya. “Aku memiliki ilmu dari Allah yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu yang tidak aku ketahui.” HR. al-Bukhari 122
Musa berjanji, insyaallah, ia akan bersabar dan tidak membantah perintah apa pun. Khidir lalu memberi satu syarat: jangan menanyakan apa pun sampai ia sendiri yang menjelaskannya.
Perahu yang dilubangi
Keduanya berjalan menyusuri pantai tanpa perahu. Sebuah perahu lewat, dan pemiliknya yang mengenali Khidir mengangkut mereka tanpa meminta upah. HR. al-Bukhari 122
Seekor burung pipit hinggap di tepi perahu dan mematuk air laut sekali atau dua kali. Khidir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu dibandingkan ilmu Allah hanyalah seperti patukan burung ini di lautan.” HR. al-Bukhari 122
Lalu Khidir mencabut salah satu papan perahu itu hingga berlubang. Musa tak kuasa menahan diri: orang-orang ini membawa kita tanpa upah, mengapa engkau melubangi perahu mereka hingga penumpangnya bisa tenggelam? Sungguh itu kesalahan yang besar. HR. al-Bukhari 122
Khidir mengingatkan, “Bukankah sudah kukatakan engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?” Musa pun meminta maaf karena lupa akan janjinya. Pelanggaran pertama itu memang terjadi karena lupa. HR. al-Bukhari 122
Anak muda yang dibunuh
Mereka melanjutkan perjalanan dan melihat seorang anak yang sedang bermain bersama teman-temannya. Khidir lalu membunuh anak itu. HR. al-Bukhari 122
Musa terkejut dan memprotes, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, padahal ia tidak membunuh siapa pun? Sungguh engkau telah berbuat sesuatu yang sangat mungkar.”
Khidir kembali mengingatkan, kali ini lebih tegas. Musa pun berkata, jika ia bertanya sekali lagi, Khidir boleh tidak lagi menyertakannya, karena ia sudah cukup diberi uzur.
Dinding yang hampir roboh
Mereka tiba di sebuah negeri dan meminta jamuan kepada penduduknya, tetapi penduduk negeri itu menolak menjamu mereka. HR. al-Bukhari 122
Di negeri itu mereka melihat dinding yang hampir roboh, lalu Khidir menegakkannya kembali dengan tangannya. Musa berkata, “Kalau engkau mau, engkau bisa meminta upah untuk itu.” HR. al-Bukhari 122
“Inilah perpisahan antara aku dan engkau,” kata Khidir. Namun sebelum berpisah, ia akan menjelaskan makna semua hal yang membuat Musa tak sanggup bersabar. HR. al-Bukhari 122
Penjelasan Khidir
Perahu itu milik orang-orang miskin yang mencari nafkah di laut. Di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu yang baik. Dengan membuatnya cacat, perahu itu selamat dari rampasan.
Adapun anak itu, kedua orang tuanya mukmin, dan dikhawatirkan kelak ia akan memaksa keduanya kepada kedurhakaan dan kekafiran. Maka dikehendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan anak yang lebih suci dan lebih penyayang.
Dinding itu milik dua anak yatim di kota tersebut. Di bawahnya tersimpan harta untuk mereka, dan ayah mereka adalah orang saleh. Tuhan menghendaki keduanya tumbuh dewasa lalu mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari-Nya. “Aku tidak melakukannya atas kemauanku sendiri,” kata Khidir. “Itulah makna hal-hal yang engkau tidak sanggup bersabar terhadapnya.”
Rasulullah ﷺ bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa. Kami ingin sekali seandainya ia bersabar, sehingga dikisahkan kepada kita lebih banyak tentang urusan mereka berdua.” HR. al-Bukhari 122
Hadits terkait
Dikisahkan ulang dari ayat Al-Qur'an (terjemahan Kemenag, Tafsir Al-Mukhtashar) dan hadits riwayat al-Bukhari serta at-Tirmidzi.